Brian Chesky: AI Agents Butuh Sistem Operasi Sendiri
CEO Airbnb Brian Chesky blak-blakan soal kenapa chatbot belum cukup buat AI agents, dan kenapa dunia AI butuh sistem operasi baru biar agen-agen bisa saling nyambung.
· 8 menit baca

Inti singkat
- Brian Chesky bilang industri AI belum punya sistem operasi yang dirancang khusus buat agen AI, cuma numpang di iOS, macOS, atau Windows.
- Airbnb baru ngerilis AI search di update musim gugur, tapi Chesky bilang ini bukan bentuk final—interface bakal terus berevolusi.
- Chesky nyobain Airbnb lewat agen AI kayak Muse dan Instinct, hasilnya belum rapi, apalagi buat booking Airbnb dibanding hotel.
- Airbnb berencana bikin agen sendiri di tiap fitur (explore, customer service) yang nantinya nyambung lewat protokol MCP ke agen aplikasi lain.
- Airbnb bakal ngerilis voice agent musim gugur ini buat bantu pencarian dan layanan pelanggan.
Daftar isi7 bagian
- 01
- 02
- 03
- 04
- 05
- 06
- 07
Brian Chesky, CEO Airbnb, bilang masalah utama di dunia AI sekarang bukan soal agennya pintar atau nggak, tapi karena belum ada sistem operasi yang emang dirancang khusus buat agen AI—semuanya masih numpang di iOS, macOS, atau Windows yang dibuat buat zaman sebelum AI.
Airbnb baru aja ngerilis AI search sebagai bagian dari update musim gugur mereka. Ini langkah besar buat perusahaan yang selama ini kalem banget soal AI. Tapi menurut wawancara Chesky sama TechCrunch, fitur ini sama sekali bukan bentuk akhir dari rencana AI Airbnb—malah baru permulaan dari eksperimen yang jauh lebih besar soal gimana seharusnya interface AI bekerja.
Checklist gratis · gratis
Checklist 30 Hari Belajar AI untuk Kerja
Rencana harian 15–30 menit untuk menjadikan AI kebiasaan kerja, lengkap dengan tracker waktu yang dihemat.
- Rencana 30 hari yang bisa dicicil 15–30 menit sehari
- Checklist harian dari fondasi sampai workflow
- Tracker untuk mengukur jam kerja yang dihemat
- Ide portofolio untuk menunjukkan skill AI-mu
Airbnb Rilis AI Search Baru, tapi Chesky Bilang Ini Belum Final
Chesky dari dulu emang nggak percaya kalau chatbot adalah jawaban buat e-commerce atau travel. Tapi dia juga nggak nganggap versi AI search Airbnb yang baru ini sebagai bentuk akhirnya. Menurut dia, bakal ada interface yang posisinya di antara chatbot dan apa yang udah Airbnb rilis sekarang.
Alasannya simpel: orang butuh browsing, bukan cuma dikasih beberapa opsi lalu disuruh ngobrol bolak-balik. Riset soal travel bahkan nunjukin orang lebih seneng pas lagi merencanakan liburan dibanding pas lagi liburan beneran. Jadi kalau interface AI cuma ngasih jawaban cepat tanpa ruang buat "dreaming" dan eksplorasi, menurut Chesky itu kehilangan bagian paling seru dari proses booking.
Kenapa Chatbot Dianggap Gagal Jadi Interface Belanja dan Jalan-Jalan?
Selain soal browsing, Chesky ngasih alasan kedua yang menurut kami lebih menarik: chatbot itu dirancang buat satu orang aja. Padahal orang sering pakai Airbnb bareng temen atau keluarga buat rencana trip bareng.
"Saya udah lama percaya chatbot bukan interface yang pas buat e-commerce," kata Chesky ke TechCrunch.
Karena itu, tiga sampai enam bulan ke depan, tim Airbnb fokus eksplorasi interface "multiplayer"—AI yang bisa dipakai bareng-bareng oleh beberapa orang sekaligus, bukan cuma satu user yang ngobrol sendirian sama bot. Startup lain kayak Monogram dan Wabi juga lagi nyobain pendekatan interface "generatif", yaitu tampilan yang dibikin AI secara real-time, bukan desain yang udah dipatok dari awal. Chesky sendiri percaya masa depannya bakal campuran: sebagian deterministik (udah didesain dan predictable), sebagian generatif.
Sistem Operasi AI Agents: Kenapa Chesky Bilang Ini yang Masih Hilang?
Ini bagian paling inti dari obrolan Chesky. Dia bilang masalah terbesar industri AI bukan soal siapa yang bikin agen paling pintar, tapi karena nggak ada operating system yang bener-bener dibuat buat AI. Idealnya, menurut Chesky, AI harus bisa jalan di level kernel—inti dari sebuah sistem operasi—biar semua komponen kayak agen bisa saling interaksi secara native.
Sekarang yang terjadi malah perlombaan buat jadi "quarterback", alias agen utama yang dipakai orang buat segala hal. Chesky kasih contoh konkret soal kenapa pendekatan ini nggak cukup:
"Masalah sama model itu [berusaha jadi agen utama] adalah nggak ada yang bikin software developer kit operating system yang lengkap. ChatGPT, di awal tahun lalu, coba bikin app store sendiri. Saya bilang ke Sam [Altman]: kalau mau jadi app store kayak iPhone, kamu butuh SDK dan operating system kayak App Store. Kalau nggak, fungsi-fungsi kami nggak akan bisa jalan di situ. Dan ternyata emang nggak jalan dengan baik," cerita Chesky.
Dia bahkan udah nyobain sendiri gimana Airbnb jalan lewat agen AI kayak Muse dan Instinct. Hasilnya belum rapi. "Bahkan hotel aja nggak jalan dengan baik, Airbnb malah lebih parah," katanya. Menurut Chesky, consumer AI belum bisa dibilang "cracked" alias belum berhasil, karena masalahnya ada di lapisan paling bawah—substrat yang dipakai agen buat beroperasi.
Agen Jadi App, App Jadi Agen — Peran MCP di Masa Depan Interoperabilitas
Chesky punya visi yang lumayan radikal: suatu hari, app Airbnb sendiri bakal jadi agen. Tab explore punya agennya sendiri, customer service punya agennya sendiri, dan akhirnya bakal ada satu "agen makro" Airbnb yang jadi payung dari semuanya. Agen ini nantinya interoperable lewat MCP (Model Context Protocol), standar yang bikin agen AI bisa connect ke software lain.
Menurut Chesky, selama ini aplikasi cuma bisa saling nyambung kalau perusahaan di baliknya sepakat bikin kerja sama bisnis. Tapi agen itu kayak "app yang punya muka"—dan kalau agen-agen ini bisa ngobrol satu sama lain, semua app jadi bisa interoperable tanpa harus nego bisnis dulu.
Meski begitu, Chesky juga nggak khawatir soal AI motong hubungan Airbnb sama pelanggan. Dia bilang chatbot justru kebukti jadi alat lead generation yang bagus—orang tetep balik ke platform Airbnb buat selesaiin transaksinya.
Soal infrastruktur, Chesky bilang Airbnb mau bikin app mereka makin "agentic" dengan user interface control yang lebih banyak. Alasannya jelas: app Airbnb beda desain sama DoorDash, Shopify, atau Amazon karena fungsinya emang beda. Kalau semua app cuma jadi "data layer" buat satu UI universal, menurut dia itu bakal ngilangin nilai dari desain yang spesifik buat tiap fungsi.
Dua Kesalahpahaman Silicon Valley soal Interface AI
Chesky nyebut dua miskonsepsi yang menurut dia lagi beredar di Silicon Valley. Pertama, anggapan kalau interface bakal hilang total dan orang cuma akan ngomong atau ngetik ke AI. Kedua, anggapan kalau software bakal jadi full generatif, dibuat otomatis tanpa desainer.
Menurut Chesky, argumennya simpel: seorang desainer bisa nge-prompt software yang lebih bagus dibanding konsumen biasa yang nggak ngerti desain. Dia juga yakin selama iPhone masih dominan dan Apple-Google masih pegang kendali platform utama, app bakal tetep jadi fitur sentral. "Ini sebenernya tergantung Apple atau Google, atau siapa aja, buat bikin platform baru biar kita bisa bener-bener geser dari app ke agent. Kalau nggak, kita cuma akan punya app yang ada agen di dalemnya, bukan app yang seluruhnya jadi agen yang interoperable," katanya.
Voice, Kecepatan Ngembangin Fitur, dan Dampaknya buat Cara Kerja Chesky
Selain soal interface, Chesky juga ngomongin voice. Dia liat tren makin banyak app kayak Wispr Flow, Willow, dan Superwhisper yang bikin orang makin sering ngomong ke device daripada ngetik. Dia percaya ke depannya orang bakal lebih banyak ngomong ke komputer dibanding nulis. Buat Airbnb, voice bakal jadi bagian penting di pencarian dan customer service—dan mereka rencananya ngerilis voice agent musim gugur ini.
AI juga udah kasih dampak nyata buat Airbnb secara internal: perusahaan ngaku ngerasain kenaikan kecepatan ship fitur gara-gara pakai AI. Di level personal, Chesky bilang AI bikin dia dapat info lebih cepat tanpa harus rapat terus-terusan. "Salah satu kerjaan saya sebagai CEO adalah cari informasi. Dulu caranya lewat rapat. Sekarang saya cukup tanya AI saya, jadi nggak perlu rapat sebanyak dulu," katanya.
Apa Artinya Buat Kita di Indonesia?
Obrolan Chesky ini kedengeran kayak urusan Silicon Valley doang, tapi sebenernya nyambung banget sama dua kelompok pembaca di Indonesia: pelaku bisnis/UMKM yang mulai pakai AI agent buat customer service, dan developer yang lagi eksperimen bikin agen sendiri.
Buat pemilik bisnis, poin pentingnya: kalau kamu udah mulai pakai chatbot AI buat layanan pelanggan, jangan berharap itu jadi solusi final. Chesky sendiri bilang bisnisnya belum "cracked" soal consumer AI, padahal Airbnb punya tim engineering besar. Yang realistis buat UMKM: mulai dari skala kecil, terus evaluasi interface mana yang paling pas buat pelanggan kamu—kadang justru kombinasi form sederhana + chat lebih efektif ketimbang full chatbot.
Buat developer, konsep MCP yang disebut Chesky ini relevan banget kalau kamu lagi bangun agen yang perlu nyambung ke sistem lain. Kamu bisa baca dasar-dasarnya di artikel kami soal apa itu API AI sebelum mulai eksperimen bikin agen yang interoperable.
Perbandingan: Dunia App Sekarang vs Visi "OS Agen AI" Chesky
| Aspek | Dunia App Sekarang | Visi Chesky soal OS Agen AI |
|---|---|---|
| Interface | App terpisah per layanan (Airbnb, DoorDash, dll) | Tiap app punya agen sendiri yang interoperable |
| Interoperabilitas | Cuma nyambung kalau ada deal bisnis | Agen saling ngobrol lewat MCP, app otomatis jadi interoperable |
| Sistem operasi | iOS, macOS, Windows—bukan dirancang buat AI | AI jalan di level kernel, bukan cuma "nebeng" |
| Contoh gagal | ChatGPT coba bikin app store tanpa SDK lengkap | Butuh SDK + OS lengkap kayak App Store Apple |
Kalau kamu lagi coba-coba bangun prototipe agen sendiri—baik buat customer service UMKM atau proyek developer—langkah praktisnya kira-kira begini:
- Mulai dari satu use case sempit (misal: jawab FAQ pelanggan), jangan langsung bikin agen serba bisa.
- Tentuin dulu apakah interface yang kamu butuh itu deterministik (form/menu tetap) atau butuh fleksibilitas generatif.
- Kalau butuh ngobrol antar sistem (misal agen customer service nyambung ke sistem inventory), pelajari protokol kayak MCP biar nggak bikin integrasi manual tiap kali ganti platform.
- Pilih model AI yang sesuai budget buat jadi "otak" agen kamu—nggak harus model paling mahal buat tugas sederhana.
Soal pilihan model, kamu bisa nyobain beberapa opsi lewat Classai Router tanpa perlu ganti-ganti API key tiap kali mau tes model berbeda. Misalnya Claude Sonnet 4.5 (Rp160/Rp800 per 1 juta token) buat tugas ringan, atau GPT-6 Astra (Rp2.240/Rp11.200 per 1 juta token) kalau butuh reasoning yang lebih kuat buat agen yang lebih kompleks.
Buat kamu yang lagi mikirin strategi adopsi AI di tim atau bisnis, kelas AI untuk Pemilik Bisnis & UMKM bisa jadi titik awal yang lebih terstruktur dibanding coba-coba sendiri. Kamu juga bisa baca rencana 30 hari kami soal adopsi AI di tim kecil buat gambaran langkah yang lebih konkret.
Contoh prompt yang bisa kamu pakai buat mulai evaluasi kesiapan bisnismu sebelum bikin agen sendiri:
Saya punya bisnis [jenis bisnis] dengan proses customer service seperti [jelaskan singkat]. Bantu saya identifikasi:1. Satu interaksi pelanggan yang paling sering terjadi dan paling gampang diotomatisasi2. Apakah interaksi ini butuh interface chat, form, atau kombinasi keduanya3. Risiko kalau ini diotomatisasi penuh tanpa pengawasan manusia
Intinya, debat soal "sistem operasi AI agents" ini bukan cuma wacana teknis doang. Kalau Apple atau Google beneran bikin OS baru yang didesain dari awal buat agen—bukan cuma nambahin fitur AI ke sistem lama—itu bisa ngubah gimana kita semua pakai AI sehari-hari, dari cara booking hotel sampai cara UMKM ngelayani pelanggan.
Sumber & referensi
- 01
TechCrunch · 1 Oktober 2026
Brian Chesky interview: AI agents need their own operating system
Artikel ini ditulis ulang oleh Tim Classai dengan bantuan AI berdasarkan sumber di atas — bukan terjemahan. Ada yang keliru? Kabari kami di halo@classai.id.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apa itu sistem operasi AI agents yang dimaksud Brian Chesky?
Ini konsep operating system yang dirancang khusus buat AI, bukan AI yang cuma numpang di iOS, macOS, atau Windows. Menurut Chesky, idealnya AI harus bisa jalan di level kernel biar semua agen bisa saling interaksi secara native, lengkap dengan SDK yang mendukung.
Kenapa Brian Chesky nggak suka chatbot buat booking Airbnb?
Chesky bilang chatbot cuma ngasih beberapa opsi per giliran dan butuh banyak bolak-balik sebelum dapat hasil, padahal orang justru seneng browsing pas rencana liburan. Chatbot juga dirancang buat satu orang, padahal booking Airbnb sering dilakukan bareng keluarga atau teman.
Apa itu MCP dalam konteks agen AI Airbnb?
MCP (Model Context Protocol) adalah standar yang bikin agen AI bisa connect ke software lain. Chesky mau tiap fitur Airbnb (explore, customer service) punya agen sendiri yang akhirnya interoperable lewat MCP ke agen dari aplikasi lain.
Apakah agen AI seperti Muse dan Instinct udah bisa booking Airbnb dengan baik?
Belum. Chesky sendiri ngaku nyobain Airbnb lewat Muse dan Instinct, dan hasilnya belum rapi—bahkan booking hotel pun belum lancar lewat agen-agen ini, apalagi Airbnb yang prosesnya lebih kompleks.
Kapan Airbnb bakal pakai voice agent?
Menurut Chesky dalam wawancara dengan TechCrunch, Airbnb berencana ngerilis voice agent di musim gugur 2026 ini untuk membantu pencarian dan layanan pelanggan, sejalan dengan tren orang makin sering ngomong ke device.

Classai Weekly
dari Luthfi · Setiap Senin, 06.30 WIB
Nggak sempat ngikutin berita AI? Biar aku yang rangkumin tiap Senin.
- 5 berita AI paling penting minggu ini — udah disaring, nggak perlu baca puluhan situs
- Kenapa itu penting buat kamu — plus opini jujur Luthfi soal arahnya
- 1 prompt siap pakai yang bisa langsung dicoba
- Pilihan kelas & model AI minggu ini — kadang ada promo khusus pelanggan
Langkah berikutnya
Sudah paham teorinya. Sekarang praktikkan.
Daftar, isi saldo mulai puluhan ribu rupiah, dan panggil model AI pilihanmu dari kode yang sudah ada.
Ditulis oleh
Pengembang Classai Router
Tim Engineering Classai membangun dan menjalankan Classai Router, gateway API AI yang kompatibel dengan format OpenAI dan Anthropic. Kami menulis panduan teknis dari pengalaman mengoperasikan API AI setiap hari.


